Menu Utama
· Depan
· Akun Anda
· Arsip Berita
· Database
· Downloads
· Feedback
· Kirim Berita
· Pencarian
· Rekomendasikan
· Top Content
· Web Links

Program 100 Hari
· Agenda Menteri Sosial

Progres Program 100 Hari
1. Setjen
    - Progres Kegiatan
2. Itjen
    - Progres Kegiatan
3. Banjamsos
    - Progres Kegiatan
4. Yanrehsos
    - Progres Kegiatan
5. Dayasos
    - Progres Kegiatan
6. Badiklit
    - Progres Kegiatan


Jurnal Penelitian

[ Puslitbang Kesos ]

[ download ]


Event Calendar
November 2009
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30  

Setjen
Itjen
Ditjen Dayasos
Ditjen Yanrehsos
Ditjen Banjamsos
Badiklit Kesos


UKURAN KEMISKINAN
Dikirim oleh dicksan - pada Monday, 28 April 2008
Pengentasan Kemiskinan

Para politisi dan pemerintah masih saja disibukkan oleh perdebatan mengenai validitas angka-angka kemiskinan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia.



Bank Dunia pada 2007 menggunakan ukuran US$ 2 -PPP (purchasing power parity )/kapita/hari . Dengannya angka kemelaratan mencapai 105,3 juta jiwa (45,2%) atau lebih rendah dari angka pada 2006 yang mencapai 113,8 juta jiwa (49,6%).

BPS melaporkan, jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 mencapai 39,05 juta (17,75 persen) atau meningkat sebesar 3,95 juta dari data tahun sebelumnya.

Ukuran kemiskinan yang dianut oleh banyak negara, termasuk Indonesia, dengan standar Bank Dunia, ternyata secara empiris acap kali "tidak bisa atau kurang tepat" menjelaskan fenomena kemiskinan. Terutama, membandingkan kemiskinan dengan kesejahteraan.

Pengukuran kemiskinan dengan standar Bank Dunia didasarkan pada ukuran pendapatan (ukuran finansial), di mana batas kemiskinan dihitung dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan.

Namun terbukti, tidak semua kemiskinan identik dengan ketidaksejahteraan, demikian juga tingkat pendapatan yang tinggi, belum mencerminkan tingkat kesejahteraan yang tinggi.

Sen Poverty Index (SPI) yang merupakan formula untuk mengukur indeks kemiskinan, ternyata tidak mampu mengukur tingkat kesejahteraan.

Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar jumlah dan prosentase penduduk miskin, melainkan dimensi yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan seberapa parah kemiskinan tersebut.

Data kemiskinan yang baik dapat dipergunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki posisi mereka.

Pengukuran kemiskinan yang dipercaya dapat menjadi instrumen tangguh bagi pengambil kebijakan dalam memfokuskan perhatian pada kondisi hidup orang miskin [elin]




 
Link Terkait
· Lebih Banyak Tentang Pengentasan Kemiskinan
· Berita oleh dicksan


Berita terpopuler tentang Pengentasan Kemiskinan:
Development Goals


Nilai Berita
Rata-rata: 3
Pemilih: 1


Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek


Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak


Associated Topics

Pengentasan Kemiskinan

PUSDATIN_KESOS
Page created in 0.661675 Seconds